Berpolitik adalah dosa ? Menurutmu bagaimana?

Ketika sekarang media begitu heboh dengan kasus BLBI, ada sebuah kasus yang sedang disidangkan yang entah mengapa tidak terlalu terdengar beritanya. Padahal ada pelajaran yang berharga yang bisa kita ambil untuk kehidupan bangsa ini menjadi lebih baik.

Kasus ini begitu membuat nurani ini semakin miris dan spektis akan demokrasi jahiliyah yang dianut bangsa ini. Ketika seorang yang begitu terhormat, penuh idealisme, menjadi panutan tiba-tiba menjadi begitu rendah dan kehilangan martabatnya setelah terjun kedunia politik. Meski kehormatan itu masih tersisa ketika kejujuran masih ada.

Kasus yang saya angkat adalah kasus suap proyek Gedung Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) senilai 1,5 milyar tahun 2004. Yang melibatkan anggota Komisi VIII DPR RI periode 2000-2004 Bpk Adenan Razak.

Bpk. Adenan Razak adalah seorang tokoh Muhammadiyah Kalimantan selatan yang sangat dihormati dan jiwa sosialnya begitu tinggi. Beliau adalah guru sekaligus sahabat ayah saya (alm), masih sdr sgar dalam ingatan saya sekitar duapuluh tahun yang lalu ketika saya masih SD, anak beliau adalah teman bermain saya setiap shalat Jum’at di masjid yang sekarang menjadi gedung Bank Mandiri di Banjarmasin. Beliau adalah kontraktor sukses yang bahkan membantu untuk memindahkan masjid tersebut ke lokasi baru.

Bahkan untuk urusan dakwah, beliau dengan ikhlas membelikan motor baru untuk ayah saya yang ketika itu mendapat musibah kecurian motor di masjid. Agar mobilitas ayah saya sebagai da’i tidak terhambat.

Dua puluh tahun berlalu, ketika hingar-bingar reformasi yang memunculkan ratusan partai politik baru yang semuanya “menggombali” mengatasnamakan rakyat (entah rakyat yang mana), Pak Adenan pun akhirnya ikut bercebur berbasah-basah berkendara dengan partai politik, yang hasilnya beliau terpilih menjadi anggota DPR RI yang katanya terhormat.

Apa lacur untuk bisa masuk kekancah dewan yang katanya terhormat ternyata memerlukan modal yang lebih besar dari modal untuk membuka bisnis rental alat berat. Terpaksa ngutang adalah jalan pintas. Akhirnya untuk membayar hutang untuk kampanye dll, “khilaf” menerima suap dari kontraktor untuk memuluskan proyek tersebut.

Tapi Pak Adenan masih memiliki hati dan kehormatan, beliaupun mengakui dosa tersebut tanpa harus menunggu penyelidikan dari pihak yang berwajib.

Jika saja seorang Adenan Razak yang mengerti akhlak dan agama saja bisa terperosok ketika berteman dengan politik, maka bagaimana dengan bapak-bapak berdasi lainnya, boro-boro ngaku, malah KKN jadi Hobi. Bahkan menjadi pendekar 212 (2 tahun balikin modal, 1 tahun cari muka sok mengurusi rakyat, 2 tahun cari modal agar bisa terpilih lagi).Semoga saja prasangka saya salah,wallahu ‘alam.

Benarlah pepatah arab yang mengatakan, berteman dengan tukang parfum maka akan ikut harum, berteman dengan tukang besi akan kebagian hitamnya.

2 Tanggapan

  1. Menurut saya..
    Politik itu adalah “Cara”,,tinggal bagaimana manusia tersebut melakukan Politik. Entah itu dengan ‘cara’ yang seperti apa..
    Halal ataupun tidak halal.. wallahu’alam, kita tidak bisa menyalahkan sesuatu yg dianggap benar, dan sebaliknya, kita jg tdk bs membenarkan sesuatu yg dianggap salah..

    Dan saya setuju sekali dengan pepatah Arab anda..
    terima kasih..

  2. makanya kita selalu berdoa kepada yang maha agung, Allah swt dalam setiap saat supaya berbuat istiqomah dalam per buatan sampai hayat dikandung badan, dan jangna tergoda oleh tahta, harta dan wanita

Tinggalkan Balasan